ODOJ Berhasil Jika Tak Ada Lagi Group ODOJ..

Alhamdulillah, saat ini telah satu setengah bulan lebih saya bergabung dengan gerakan One Day One Juz di group ODOJ 137. Saya sangat berterima kasih kepada Bunbun (panggilan untuk istri tercinta) yang mengirim informasi pendaftaran ODOJ melalui whatsapp. Dalam satu setengah bulan bergabung dengan ODOJ, saya diterapi group ODOJ agar terbiasa membaca Al-Quran satu juz sehari. Barangkali baru kali ini saya konsisten 1 juz sehari dalam kurun waktu yang cukup lama, yang sebelumnya hanya saya lakukan bulan Ramadhan. Sebelumnya, membaca Al-Quran hanya ala kadarnya, selembar dua lembar dan tidak punya target khatam.

Pada mulanya, membaca sejuz sehari (yang tadinya hanya beberapa halaman) saya rasakan cukup berat. Beberapa hari pertama, saya baru bisa menyelesaikan satu juz di injury time, menjelang pukul 22:00. Lama-lama, saya mulai selesai lebih awal, setelah maghrib, setelah dzuhur, bahkan pernah selesai pagi hari setelah shubuh.

Apalagi di group ODOJ 137, ada beberapa anggota yang anggota PKS (Pasukan Khatam Shubuh) yang memotivasi saya dan teman-teman lain ntuk konsisten tilawah Al-Quran.

Ada Ustadz Dudi, ustadz sekaligus guru madrasah. Ada Akh Alan, eh Pak Alan, anggota paling senior yang berprofesi sebagai kepala sekolah, tapi selalu khatam gelombang awal. Kemudian ada Akh Rico, yang, meskipun kehilangan motor selepas shubuh, tetap khatam pagi setelah dari kantor polisi. Bahkan, akh Rico saat ini menjadi admin beberapa group ODOJ (jazakallah akhiy atas motivasinya selama ini, semoga antum segera diberi momongan).

Jika diibaratkan, mereka adalah orang yang berlari mengejar kebaikan, sedangkan saya, mungkin baru sekadar belajar berjalan menuju kebaikan.

Selama saya bergabung dengan ODOJ, jika saya tidak salah hitung, ada satu dua anggota yang keluar dari group lalu dengan cepat digantikan dengan yang lain mengingat semakin banyak peminat ODOJ sehingga menambah daftar panjang waiting list. Kata admin saya, Akh Yuzar, ini wajar terjadi dan merupakan seleksi alam.

Sepintas saya merasa sedih, karena tidak bersama-sama lagi dengan mereka dalam satu group yang dimana anggotanya berusaha keras untuk mencintai dan berinteraksi secara intens dengan Al-Quran.

Tapi, ada yang membuat saya takjub dari berapa orang yang keluar tadi. Alasan mereka keluar group justru membuat saya semakin ingin istiqomah tilawah Al-Quran dan semakib cinta dengan ODOJ. Betapa tidak, mereka mendaftar ODOJ karena ingin belajar istiqomah 1 hari 1 juz. Sedangkan alasan mereka keluar bukan karena menyerah 1 juz sehari, melainkan ingin one day one juz secara mandiri.

Seperti Akh Lutfi, yang pada hari setelah giliran beliau menjadi PJ Harian, memutuskan keluar dari group ODOJ untuk berODOJ di rumah dengan istri (kebetulan Akh Luthfi baru saja menikah). Ada Akh Izzul, mahasiswa S2, yang berprofesi mulia sebagai pengurus masjid, keluar dari ODOJ karena ingin fokus dengan hafalan Qurannya. Pun demikian dengan Akh Ardiansyah, yang keluar dengan alasan yang sama, ingin berODOJ secara mandiri.

Maka, betapa beruntung mereka yang menggagas dan mengampanyekan ODOJ, insya Allah mereka mendapat pahala kebaikan, karena baik mereka yang bergabung ODOJ (yang saat ini sudah lebih dari 70.000), bahkan yang keluar sekalipun menjadi semakin jatuh hati dengan Al-Quran.

Bahkan, dari ODOJ ini pulalah berkembang gerakan sejenis, seperti ODOP (One Day One Page), gerakan menghafal satu lembar sehari, maupun ODOL (One Day One Lembar), gerakan membaca Al-Quran selembar sehari untuk anak-anak yang ayah dan ibunya ikut ODOJ.

Dari ODOJ pulalah, saya berkenalan dengan Akh Irul, yang saat ini sedang melanjutkan studi di Jepang, yang memiliki anak usia belum genap 10 tahun, bersemangat mengikuti ODOJ.

Kemudian, saya sangat berterima kasih kepada sahabat-sahabat salafi, yang sudah menanyakan fatwa tentang ODOJ dan memberikan nasihat, sebagai bukti kecintaan salafi pada ummat Islam agar jangan sampai kami tergelincir kedalam perkara-perkara yang tidak diperkenankan. Jika diizinkan, berilah ruang kepada pengurus ODOJ, yang telah berupaya keras mengajak umat Islam mencintai Al-Quran, untuk terus memperbaiki sistem dan metode ODOJ, agar tetap sesuai dengan Al-Quran dan sunnah.

Sebagai penutup dari testimoni saya yang panjang, lebar, luas, dan dalam ini, saya ingin membuat sedikit kesimpulan mengenai kapan gerakan ODOJ ini benar-benar sukses: yaitu ketika umat Islam tidak lagi bergabung di group ODOJ secara online, melainkan mereka telah sepenuhnya kembali dan mencintai Al-Quran, para suami menyimak bacaan dan hafalan para istri dan anak mereka di rumah-rumah mereka.

Wallahu a’lam bisshowab.

-mas uu-
Depok, 22 Januari 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s