Perempuan Generasi Al-Quran

Sekitar tahun 2008 hingga 2009, saya mengikuti pendidikan tahsin di Lembaga Tahsin & Tahfidz Al-Quran Al-Hikmah di daerah Ciputat dibawah bimbingan Ustadz Muzzammil. Lembaga pendidikan tersebut bertujuan memperbaiki bacaan Al-Quran dan menambah kecintaan ummat Islam dengan Al-Quran.

Tempat belajarnya adalah sebuah masjid kecil, dengan santri-santri membentuk kelompok-kelompok kecil berjumlah lebih kurang 10 orang. Metode belajarnya dengan talaqqi, dimana setiap santri membaca al-Quran disimak langsung oleh ustadz, yang akan membenarkan bacaan jika terdapat kesalahan.

Sepengamatan saya waktu itu, peserta pendidikan tahsin tersebut didominasi oleh kaum perempuan, baik ibu-ibu maupun mahasiswi. Waktu belajar tahsin dibagi menjadi 2 gelombang, bakda zuhur sampai ashar untuk santri perempuan, sedangkan bakda ashar hingga maghrib untuk santri laki-laki. Meski tak tahu jumlah persisnya, saya bisa mengatakan bahwa jumlah santri perempuan (ibu-ibu dan mahasiswi tadi) jauh lebih banyak, beberapa kali lipat dari jumlah santri laki-laki.

Pun demikian dengan gerakan One Day One Juz. Hingga saat ini, jumlah group laki-laki dibanding group perempuan 1 berbanding 2 (update hari Ahad, 3 Rabiul Awwal/5 Januari 2014, ikhwan 502 group ikhwan berbanding 1208 group akhwat). Sebagai laki-laki kita boleh saja sedih, tapi percayalah, bahwa ini adalah kabar baik bagi ummat Islam.

Ketahuilah, bahwa semakin banyak perempuan yang mencintai Al-Quran, maka kedepan akan semakin banyak generasi yang mencintai Al-Quran. Mereka adalah perempuan generasi Al-Quran, yang akan melahirkan anak-anak dan generasi pecinta Al-Quran. Mereka adalah perempan generasi Al-Quran, yang akan menjadi tempat belajar pertama anak-anak mereka kelak.

Tentang perempuan generasi Al-Quran ini, saya jadi teringat tweet Ustadz Salim A. Fillah, tentang biografi Muhammad bin Idris Asy-Syafii, atau yang lebih dikenal dengan Imam Syafii. Beliau adalah seorang pemikir besar dalam sejarah Islam. Imam Syafi’i ditinggal wafat oleh ayahandanya pada saat usianya baru 2 tahun, dan bertumbuh dibawah asuhan Ibundanya.

Pada saat usianya 7 tahun, beliau telah hafal Al-Quran. Selain itu, beliau juga menghafal kitab Al-Muwatha dalam 9 malam. Begitu tingginya daya hafal beliau, sampai-sampai ditulis dalam sebuah buku, bahwa jika beliau belajar atau menghafal sebuah kitab, beliau akan menutupi halaman berikutnya, karena takut terhafal.

Seluruh ummat Islam di dunia mungkin mengingat atau mengenal nama harum Imam Syafii, tapi hanya sedikit yang mengingat bahwa Ibunda beliau memiliki peran yang sangat penting dibalik kebesaran Imam Syafii. Begitu besarnya penghormatan Imam Syafii kepada ibunya, sampai-sampai beliau memberi judul Al-Umm, yang berarti Induk atau Ibu, untuk kitab yang ditulisnya yang menjadi rujukan ulama-ulama fikih.

Dan saya menaruh harapan besar, dari rahim-rahim perempuan generasi Al-Quran inilah, akan lahir generasi-generasi quran baru ummat Islam, yang akan memakmurkan bumi, menjadi rahmat bagi semesta.

Wallahu a’lam bisshowab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s